Hari tanpa TV


(picture dari http://www.kidia.org/)

Hari Minggu kemarin kita ikut menyukseskan Hari tanpa TV. Lihat ajakannya disini

Jadi, ngapain aja dong minggu, ga kemana2 dan tanpa TV?

Main di luar rumah!
Bangun tidur Sarah sudah jalan2 pagi seperti biasanya sampai jam 7.30an. Jam 8-9 tidur.
Sandra baru bangun 7.30 dan makan-main sampai jam 9. Jam 9 ada tamu sampai jam 9.30. Dan tadinya kita berdua mau jogging, tapi karena Sarah ikut jadi kita main di taman sampai jam 10.30.
Sudah pulang dari taman, eh pergi lagi ke luar rumah cari buah kecil yg bisa dimakan (apa ya namanya?)

Sarah tidur siang 11.30 sedangkan Sandra makan siang. Setelah makan siang, latihan piano trus tidur siang.
Sedangkan Sarah bangun tidur, makan trus.. main di luar rumah lagi!
Kali ini nemenin mbak yg lagi nguras ‘pot besar’nya teratai, Sarah nyemplung di ember.

Puas main, makan lagi. Sandra bangun, dan kita pergi ke kota jam 4.30 sore. Pulang2 jam 7.30, Sandra bikin PR, trus main jual2an makanan dengan Sarah, yg juga asik pake selop tok-tok (hak tinggi) sambil pake tas.
Jam 9 tidur semua..
dan ternyata, BISA KOK seharian ga nonton TV ;)


tulisan pertama Sandra

Hari ini Sandra pertama kali nulis di blognya sendiri.
Tulisannya bisa dilihat disini.
Sandra tidak menulis tentang kesehariannya, tapi tentang.. hmm apa ya, pokoknya yang ia rasakan dan apa yg ada di kepalanya..

Karena Sandra sudah punya blog sendiri, cerita-cerita tentang Sarah jadi punya tempat sendiri juga, disini.
Mampir ya!


kok ‘mbak’nya ga ikut?

pertanyaan itu yg sering ditanyakan orang kalau kita pergi berempat… padahal wiken gitu loh, hari keluarga hari dimana (menurut saya) seharusnya anak2 dijaga sendiri oleh bapa-ibunya — apalagi buat ibu bekerja, kalau bukan wiken kapan lagi dong bisa dekat dengan anak?

bagi saya, selagi anak masih kecil, sesering mungkin saya harus ada waktu buat mereka, dengan catatan kalau bisa.. yah beruntunglah saya masih bisa ke kantor pagi saja (siang sudah di rumah) atau siang saja (berangkat siang), makanya saya bilang kalau bisa - saya mengerti banyak ibu bekerja yg tidak bisa seperti saya..

tapi biar saya sering bolos dan agak sering di rumah, tetap di ‘hari keluarga’ diusahakan perginya ga sama si ‘mbak’ , kita masih mampu kok jaga anak sendiri… ‘tapi kan anak saya nurutnya sama si mbak, atau mau makannya cuma sama si mbak..’ heiii this is your child! not si mbak’s child, you should be able to handle that!

’saya kan jadi ga bisa belanja abis anak saya bandel semua brg dijatuhin, kalau ada mbak kan ada yg nemenin main’ wah ibu, once again, you should be able to handle your own child! Dan jadikan kesempatan belanja menjadi ajang pembelajaran bagi anak, dengan memperkenalkan/membedakan barang : ada melon yg besar, salak yg bersisi, anggur yg kecil..

atau membandingkan harga, atau malah belajar membaca (merek misalnya) atau belajar berhitung dengan menjumlah, mengalikan, membagi atau mengurangi harga barang. Atau kalau pas belanja baju, jadikan kesempatan si anak (batita) untuk bedakan tekstur kain, atau pola, bahwa ada baju bercorak (batik misalnya) dan yg polos, belajar warna..
hey, do you realize that learning can be done everywhere?

makanya saya suka agak tersinggung kalau ada yg nanya, kok ‘mbak’nya ga ikut? loh.. gw masih mampu kok! bawa dua anak ayo.. anak gw sendiri kok..
kalau ibu2 di LN bisa, ga cuma jalan2 yg ga sama mbak, malah pekerjaan rumah tanpa PRT juga.. kenapa kita ibu2 indonesia ga bisa? minimal pergilah saat wiken tanpa mbak! dan semoga pertanyaannya suatu hari menjadi ‘kok mbaknya ikut’ ;)